Rasulullah ﷺ melaksanakan umroh sebanyak empat kali, dan semuanya terjadi setelah hijrah ke Madinah, bukan sebelum Islam berjaya. Ini penting agar kita tidak membangun narasi keliru seolah umroh selalu mudah dan tanpa ujian.
1. Umroh Hudaibiyah (6 H) – Umroh yang Tertahan
Pada tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat ke Makkah dengan niat umroh. Mereka tidak membawa senjata perang, hanya pedang dalam sarung sebagai tradisi musafir.
Namun Quraisy menghalangi mereka masuk ke Makkah. Akhirnya terjadilah Perjanjian Hudaibiyah yang secara zahir tampak merugikan kaum muslimin.
➡️ Rasulullah ﷺ tidak marah, tidak memaksa, dan tidak melanggar perjanjian.
➡️ Beliau menyembelih hewan hadyu dan bertahallul di Hudaibiyah tanpa masuk Masjidil Haram.
📌 Hikmah besar:
Ketaatan lebih utama daripada perasaan.
Ibadah yang terhalang bukan kegagalan jika dilakukan sesuai perintah Allah.
Dalil:
“Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”
(QS. Al-Fath: 1)
Padahal secara kasat mata, itu tampak seperti kekalahan.
2. Umroh Qadha (7 H) – Umroh dengan Wibawa
Setahun kemudian, Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah untuk umroh qadha sesuai perjanjian. Kaum Quraisy harus meninggalkan Makkah selama tiga hari.
Dalam umroh ini:
- Rasulullah ﷺ thawaf dengan penuh ketenangan
- Beliau melakukan raml (jalan cepat di tiga putaran pertama) untuk menunjukkan kekuatan kaum muslimin
- Tidak ada pamer ibadah, tidak ada teriakan berlebihan
📌 Hikmah:
Ibadah tidak menghilangkan wibawa.
Khusyu’ bukan berarti lemah.
3. Umroh Ji’ranah (8 H) – Umroh dalam Diam
Setelah perang Hunain dan pembagian ghanimah, Rasulullah ﷺ melakukan umroh dari Ji’ranah. Menariknya, umroh ini dilakukan secara sederhana dan nyaris tanpa publikasi.
➡️ Tidak ada perayaan
➡️ Tidak ada pengumuman besar
➡️ Tidak ada pencitraan
📌 Hikmah:
Ibadah terbaik seringkali yang paling sunyi dari sorotan.
4. Umroh Terakhir Bersama Haji Wada’ (10 H)
Pada Haji Wada’, Rasulullah ﷺ menggabungkan haji dan umroh (qiran). Inilah umroh terakhir beliau sebelum wafat.
Dalam umroh dan haji ini:
- Beliau mencontohkan manasik dengan detail
- Berkali-kali bersabda:
“Ambillah dariku manasik kalian.”
(HR. Muslim)
📌 Ini isyarat tegas:
Umroh dan haji tidak boleh dibuat-buat, apalagi ditambah bid’ah.
Pelajaran Besar dari Umroh Rasulullah ﷺ
- Umroh tidak selalu mudah, tapi selalu bernilai jika sesuai Sunnah
- Tidak semua niat baik langsung Allah izinkan terlaksana
- Kesabaran dalam ibadah bisa lebih utama daripada pelaksanaan itu sendiri
- Rasulullah ﷺ tidak pernah menjadikan umroh sebagai ajang wisata, apalagi pamer
Penutup Nasihat
Jika hari ini umroh sering dikemas berlebihan, penuh konten, dan jauh dari keteladanan Rasulullah ﷺ, maka yang perlu diperbaiki bukan paketnya, tapi niat dan caranya.
Umroh yang benar bukan yang paling nyaman,
tapi yang paling mendekati cara Nabi ﷺ.
Jika ingin memastikan pelaksanaan umroh sesuai Sunnah, bebas dari praktik keliru, dan dibimbing dengan benar dari sisi ibadah—not sekadar perjalanan—
konsultasikan rencana umrohmu bersama Haastour, agar langkahmu ke Tanah Suci benar-benar bernilai di sisi Allah ﷻ.
