Mabrur bukan label yang bisa dipastikan oleh manusia. Ia adalah penilaian Allah. Namun para ulama menjelaskan tanda-tandanya agar seorang muslim bisa bermuhasabah, bukan berbangga. Umroh dan haji yang mabrur tidak diukur dari lamanya di Tanah Suci atau mahalnya biaya, tetapi dari perubahan setelah pulang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan besarnya kedudukan mabrur, sekaligus beratnya syaratnya.
1. Perubahan Akhlak ke Arah yang Lebih Baik
Tanda paling jelas adalah perubahan akhlak. Orang yang umroh atau hajinya mabrur menjadi lebih:
- Rendah hati
- Lembut dalam ucapan
- Menjauhi maksiat yang dulu biasa dilakukan
Jika pulang justru lebih keras, mudah marah, dan meremehkan orang lain, itu tanda perlu evaluasi.
2. Lebih Menjaga Shalat dan Ibadah Wajib
Ibadah sunnah di Tanah Suci sangat mudah dilakukan. Ujian sebenarnya adalah setelah pulang. Umroh dan haji yang mabrur membuat seseorang:
- Lebih tepat waktu dalam shalat
- Lebih menjaga shalat berjamaah
- Lebih takut meninggalkan kewajiban
Jika shalat kembali lalai, ada yang perlu direnungi.
3. Hatinya Lebih Takut Berbuat Dosa
Ciri mabrur bukan merasa suci, tetapi merasa lebih diawasi Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Takut di sini bukan takut kehilangan status, tetapi takut kehilangan ridha Allah.
4. Lebih Cinta Akhirat daripada Dunia
Orang yang mabrur tidak anti dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan. Prioritas hidupnya berubah:
- Lebih selektif mencari rezeki
- Lebih ringan bersedekah
- Lebih tenang menghadapi ujian
Ini bukan sikap pasif, tetapi sikap sadar tujuan hidup.
5. Menjaga Hubungan dengan Sesama
Mabrur juga terlihat dalam hubungan sosial. Orang yang mabrur:
- Mudah memaafkan
- Menjaga silaturahmi
- Tidak merasa lebih mulia karena ibadahnya
Nabi ﷺ bersabda:
“Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
6. Tidak Suka Membanggakan Ibadahnya
Umroh dan haji yang mabrur menjauhkan dari riya. Tidak sibuk menceritakan ibadah kecuali untuk kebaikan atau dakwah.
Jika yang muncul justru kebanggaan, status sosial, atau merasa lebih tinggi dari yang belum berangkat, itu tanda bahaya.
7. Konsisten dalam Kebaikan Meski Kecil
Tanda mabrur bukan perubahan drastis sesaat, tetapi konsistensi. Mungkin tidak langsung besar, tetapi terus berjalan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Konsistensi inilah buah ibadah yang diterima.
Hal yang Perlu Diluruskan
- Tidak ada mimpi tertentu sebagai tanda mabrur
- Tidak ada perasaan khusus yang wajib dirasakan
- Tidak ada manusia yang berhak memastikan mabrur
Yang ada hanyalah harapan, doa, dan evaluasi diri.
Kesimpulan
Umroh dan haji yang mabrur tercermin setelah koper dibuka dan rutinitas kembali berjalan. Jika iman lebih terjaga, dosa lebih ditakuti, dan akhlak lebih baik, itu tanda kebaikan yang patut disyukuri.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 27)
Jika kamu ingin melaksanakan umroh dengan bimbingan yang menekankan pemahaman sunnah dan dampak ibadah setelah pulang, bukan sekadar ritual,
konsultasikan rencana umrohmu bersama Haastour.
Haastour mendampingi jamaah agar umroh tidak berhenti di Tanah Suci, tetapi berlanjut menjadi perubahan nyata dalam hidup sehari-hari.
