Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji Sesuai Sunnah

Daftar Isi

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang memiliki tata cara rinci dan tidak boleh dilakukan berdasarkan kebiasaan atau tradisi semata. Haji yang benar adalah haji yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, bukan sekadar sah secara teknis. Nabi ﷺ bersabda:

“Ambillah dariku tata cara manasik kalian.”
(HR. Muslim)

Berikut urutan tata cara pelaksanaan ibadah haji sesuai sunnah, ringkas namun lengkap.


1. Niat Ihram dari Miqat

Haji dimulai dengan niat ihram dari miqat yang telah ditentukan. Niat dilakukan di hati, bukan dilafalkan bersama-sama. Setelah itu dianjurkan membaca talbiyah.

Talbiyah yang diajarkan Nabi ﷺ:

“Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sejak niat ihram, larangan ihram mulai berlaku.


2. Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah)

Ini adalah rukun haji paling utama. Tanpa wukuf, haji batal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Haji itu adalah Arafah.”
(HR. Tirmidzi)

Wukuf dilakukan sejak tergelincir matahari hingga terbenam. Di Arafah, jamaah memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan taubat. Tidak ada doa khusus yang diwajibkan, semua doa diperbolehkan.


3. Mabit di Muzdalifah

Setelah maghrib, jamaah menuju Muzdalifah, tanpa sholat maghrib di Arafah. Maghrib dan isya dijamak ta’khir di Muzdalifah.

Sunnahnya:

  • Mabit (bermalam) di Muzdalifah
  • Mengumpulkan batu untuk jumrah
  • Banyak berdzikir

4. Melempar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah)

Pada hari Nahr, jamaah melempar 7 batu ke Jumrah Aqabah sambil bertakbir setiap lemparan.

“Allahu Akbar.”

Tidak disyariatkan membaca doa tertentu setelah melempar Jumrah Aqabah.


5. Menyembelih Hadyu (bagi Tamattu’ dan Qiran)

Bagi jamaah haji tamattu’ dan qiran, wajib menyembelih hewan hadyu. Jika tidak mampu, maka puasa sesuai ketentuan syariat.

Allah berfirman:

“Barang siapa tidak menemukan (hewan hadyu), maka wajib berpuasa.”
(QS. Al-Baqarah: 196)


6. Tahallul

Setelah melempar jumrah dan menyembelih hadyu, jamaah mencukur atau memendekkan rambut.

  • Laki-laki: dicukur gundul lebih utama
  • Perempuan: cukup memotong sedikit ujung rambut

Ini disebut tahallul awal.


7. Thawaf Ifadhah

Thawaf ini adalah rukun haji. Dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad.

Setelah thawaf, sholat sunnah 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim (jika memungkinkan).


8. Sa’i antara Shafa dan Marwah

Sa’i dilakukan setelah Thawaf Ifadhah (atau setelah thawaf qudum bagi haji ifrad dan qiran).

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 158)

Sa’i dilakukan 7 kali, dari Shafa ke Marwah.


9. Mabit di Mina dan Melempar Jumrah (Hari Tasyrik)

Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah:

  • Mabit di Mina
  • Melempar tiga jumrah setiap hari: Ula, Wustha, dan Aqabah
  • Masing-masing 7 lemparan

Setelah jumrah Ula dan Wustha, sunnah berdoa panjang menghadap kiblat.


10. Thawaf Wada’

Sebelum meninggalkan Makkah, jamaah wajib melakukan Thawaf Wada’, kecuali wanita haid dan nifas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah seseorang meninggalkan Makkah sebelum menjadikan akhir perjumpaannya dengan Ka’bah adalah thawaf.”
(HR. Muslim)


Kesimpulan

Haji sesuai sunnah menuntut:

  • Ilmu sebelum berangkat
  • Mengikuti urutan manasik Nabi ﷺ
  • Menjauhi bid’ah dan pelanggaran

Haji bukan hanya sah, tetapi harus benar dan diterima.


Agar ibadah haji dan umrohmu sesuai sunnah, terarah, dan tidak salah langkah,
konsultasikan persiapan manasikmu bersama Haastour.
Haastour mendampingi jamaah dengan bimbingan fiqih yang jelas, praktis, dan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, agar ibadahmu tenang dan bernilai di sisi Allah.