Umroh di bulan Ramadhan memiliki keutamaan besar. Namun di balik keutamaannya, ada realitas yang harus dipahami dengan jujur: suasana Masjidil Haram dan Masjid Nabawi berubah menjadi sangat padat, dinamis, dan penuh pergerakan manusia dari seluruh dunia.
Memahami hiruk pikuk ini penting agar ibadah tetap sesuai syariat dan tidak berubah menjadi sumber mudharat.
1. Kepadatan yang Sangat Tinggi
Ramadhan adalah musim puncak umroh.
Terutama:
- 10 hari terakhir
- Malam ganjil
- Menjelang berbuka
- Setelah tarawih
Thawaf bisa sangat padat hingga sulit bergerak stabil. Sa’i juga penuh antrean. Jika tidak siap mental dan fisik, konsentrasi ibadah mudah terganggu.
Islam tidak melarang beribadah di kondisi ramai, tetapi ada kaidah penting:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah)
Jika seseorang memaksakan thawaf di puncak kepadatan hingga mendorong, menyikut, atau menyakiti orang lain, maka ia berdosa walaupun niatnya ibadah.
2. Risiko Hilangnya Kekhusyukan
Ramadhan seharusnya waktu paling khusyuk.
Namun dalam kondisi:
- Desak-desakan
- Suara tangis anak
- Jamaah terpisah rombongan
- Fisik lelah karena puasa
Sebagian orang justru lebih sibuk bertahan daripada merenung.
Ini bukan salah Ramadhan, tetapi salah perencanaan dan kesiapan.
Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Khusyuk adalah tujuan. Jika suasana membuat hati kacau dan emosi mudah naik, maka perlu evaluasi cara dan waktu pelaksanaan.
3. Tekanan Fisik Lebih Berat
Umroh saat Ramadhan berarti:
- Berjalan jauh dalam kondisi puasa
- Cuaca panas
- Kurang cairan
- Jadwal ibadah padat (qiyam, tarawih, witir)
Bagi lansia, anak kecil, atau yang memiliki riwayat penyakit, ini bukan perkara ringan.
Islam bukan agama yang menyiksa fisik.
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Memaksakan diri hingga jatuh sakit bukan tanda ketakwaan.
4. Ujian Adab dan Kesabaran
Di musim ramai, akhlak benar-benar diuji:
- Orang mendorong
- Antrean panjang
- Hotel penuh
- Lift lama
- Jadwal padat
Jika seseorang mudah marah, membentak, atau menyalahkan jamaah lain, maka ia kehilangan ruh ibadahnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan sia-sia, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Artinya, puasa dan umroh bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi penjagaan hati dan lisan.
5. Realitas Biaya yang Lebih Tinggi
Hiruk pikuk Ramadhan bukan hanya di masjid, tetapi juga dalam sistem:
- Harga hotel melonjak
- Tiket pesawat mahal
- Permintaan tinggi
- Slot terbatas
Sebagian orang memaksakan diri secara finansial demi “ingin Ramadhan di Makkah”, lalu pulang dalam kondisi terbebani hutang.
Padahal Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ibadah tidak boleh dibangun di atas tekanan yang merusak kestabilan keluarga.
6. Apakah Berarti Tidak Disarankan?
Tidak.
Umroh Ramadhan sangat mulia. Pahalanya besar.
Namun harus dipahami secara realistis:
✔ Cocok bagi yang fisiknya kuat
✔ Siap mental menghadapi kepadatan
✔ Tidak terbebani finansial
✔ Mampu menjaga adab dalam kondisi ramai
Jika tidak memenuhi itu, umroh di luar Ramadhan bisa lebih khusyuk dan lebih maslahat.
Nilai ibadah bukan pada ramai atau tidaknya suasana, tetapi pada ikhlas dan ketepatan syariat.
Kesimpulan
Hiruk pikuk umroh saat Ramadhan adalah realitas yang tidak bisa dihindari: kepadatan tinggi, ujian kesabaran, tekanan fisik, dan biaya yang meningkat. Keutamaannya besar, tetapi tantangannya juga nyata.
Ramadhan di Tanah Suci adalah nikmat bagi yang siap, namun bisa menjadi beban bagi yang memaksakan diri. Ibadah terbaik adalah yang menghadirkan ketenangan hati, menjaga adab, dan tidak menimbulkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Jika Anda sedang mempertimbangkan umroh Ramadhan, rencanakan dengan matang — perhitungkan kesiapan fisik, mental, dan finansial keluarga. Anda dapat meminta gambaran detail musim Ramadhan 2026 kepada tim Haastour agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kesiapan, bukan sekadar dorongan suasana.
