Suasana Tarawih di Masjidil Haram

Daftar Isi

Tarawih di Masjidil Haram bukan sekadar shalat malam biasa. Ia adalah pertemuan jutaan hati dari berbagai bangsa yang berdiri dalam satu saf menghadap Ka’bah, membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, dan berharap ampunan Allah. Suasananya sangat berbeda dibandingkan masjid mana pun di dunia.


1. Lautan Manusia yang Tertib

Ketika memasuki malam Ramadhan, pelataran Masjidil Haram mulai dipenuhi jamaah sejak sebelum Isya. Saf terbentuk sangat rapat. Lantai marmer yang luas berubah menjadi hamparan manusia bersujud.

Pada 10 malam terakhir, kepadatan meningkat drastis:

  • Area dalam masjid penuh lebih awal
  • Pelataran hingga jalan sekitar ikut digunakan untuk saf
  • Petugas mengatur arus masuk dan keluar dengan disiplin tinggi

Meski jumlahnya sangat besar, ketertiban tetap terjaga. Ini menjadi pelajaran tentang adab dan kesabaran.


2. Bacaan Imam yang Panjang dan Menyentuh

Tarawih di Masjidil Haram biasanya:

  • 20 rakaat
  • Ditambah witir
  • Bacaan Al-Qur’an relatif panjang, terutama di 10 malam terakhir

Suara imam menggema melalui sistem audio berteknologi tinggi. Setiap ayat terasa lebih dalam karena dibaca di depan Ka’bah. Banyak jamaah menangis, terutama ketika ayat tentang rahmat dan azab dibacakan.

Di sinilah terasa makna firman Allah:

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Taha: 14)

Tarawih menjadi momentum tadabbur, bukan sekadar rutinitas.


3. Atmosfer Spiritual yang Sangat Kuat

Beberapa hal yang membuat suasana berbeda:

  • Semua orang datang dengan niat ibadah
  • Tidak ada obrolan sia-sia saat shalat berlangsung
  • Doa qunut witir dibaca panjang dan penuh penghayatan
  • Tangisan terdengar di berbagai sudut

Pada malam-malam ganjil terakhir, terutama 27 Ramadhan, suasananya sangat haru. Banyak jamaah beritikaf, tidak pulang hingga Subuh.


4. Tantangan Fisik yang Nyata

Suasana yang agung ini juga memiliki ujian:

  • Berjalan jauh karena area parkir jauh
  • Berdiri lama dalam shalat
  • Berdesakan saat keluar
  • Cuaca yang bisa sangat panas walau malam

Bagi lansia atau yang kurang sehat, ini perlu persiapan fisik yang matang. Jangan memaksakan diri hingga membahayakan kesehatan.

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)


5. Momentum Muhasabah Diri

Tarawih di Masjidil Haram sering menjadi titik balik hidup seseorang. Melihat jutaan orang bersujud bersama menyadarkan bahwa dunia ini kecil, dan akhirat jauh lebih besar.

Namun perlu diingat: keutamaan bukan pada lokasinya saja, tetapi pada kekhusyukan. Jika hati lalai, maka nilai ibadah bisa berkurang meski tempatnya mulia.


Kesimpulan

Suasana Tarawih di Masjidil Haram adalah perpaduan antara:

  • Kemegahan arsitektur
  • Kepadatan manusia
  • Kekhusyukan bacaan Al-Qur’an
  • Tangisan doa di malam Ramadhan

Ia bukan sekadar pengalaman spiritual, tetapi juga ujian kesabaran dan keikhlasan. Jika Allah beri kesempatan merasakannya, siapkan diri dengan ilmu, fisik, dan niat yang lurus.

Jika Anda ingin merencanakan umroh Ramadhan agar bisa merasakan langsung suasana Tarawih di Masjidil Haram dengan persiapan yang matang dan sesuai tuntunan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan Haastour agar perjalanan ibadah Anda lebih terarah dan nyaman.