Pertanyaan ini perlu diluruskan sejak awal. Umroh adalah ibadah, bukan instrumen investasi dunia. Jika niatnya mencari kekayaan materi, maka ada potensi penyimpangan niat. Namun ada sisi keberkahan yang perlu dipahami secara benar.
I. Dalil Tentang Umroh dan Kecukupan Rezeki
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Iringilah antara haji dan umroh, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat besi.”
(HR. Tirmidzi, hasan sahih)
Hadits ini sering dipahami bahwa umroh membuat seseorang kaya. Yang benar:
- Menghilangkan kefakiran ≠ otomatis menjadi kaya raya.
- Bisa berarti Allah cukupkan kebutuhannya.
- Bisa berarti Allah berkahi hartanya.
- Bisa berarti Allah hilangkan sebab-sebab kesempitan rezeki.
Kekayaan dalam Islam bukan sekadar banyak harta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
II. Makna “Menghilangkan Kefakiran”
Para ulama menjelaskan maknanya bisa berupa:
- Allah lapangkan rezeki.
- Allah cukupkan kebutuhan.
- Allah hilangkan rasa miskin dalam hati.
- Allah buka pintu peluang yang sebelumnya tertutup.
Namun tidak ada jaminan matematis:
Umroh → Pasti kaya → Pasti sukses bisnis.
Jika itu dijadikan motivasi utama, niat bisa rusak.
III. Bahaya Jika Niatnya Salah
Jika seseorang berumroh dengan niat utama:
- Supaya bisnis lancar
- Supaya cepat kaya
- Supaya dapat relasi
- Supaya branding naik
Maka ini bisa mencederai keikhlasan.
Allah berfirman:
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna…”
(QS. Hud: 15)
Artinya: jika orientasi dunia yang dominan, pahala akhirat bisa hilang.
IV. Realita yang Sering Terjadi
Banyak orang setelah umroh:
✔ Lebih disiplin shalat
✔ Lebih takut maksiat
✔ Lebih rajin sedekah
✔ Lebih bersih dari riba
Perubahan ini yang sering membuka pintu rezeki.
Bukan karena ritualnya semata, tapi karena taqwa yang meningkat.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Jadi yang mendatangkan rezeki adalah taqwa, bukan sekadar perjalanan umroh.
V. Jadi, Bisa atau Tidak?
Jawaban jujur:
✔ Bisa membuat hidup lebih berkah.
✔ Bisa membuka pintu rezeki.
✔ Bisa mengubah mentalitas miskin menjadi kaya hati.
✔ Bisa memperbaiki sebab-sebab rezeki.
Namun:
✘ Tidak otomatis membuat kaya materi.
✘ Tidak menjamin sukses bisnis.
✘ Tidak bisa dijadikan “strategi memperkaya diri”.
VI. Kesimpulan
Umroh bukan alat mencari kekayaan dunia.
Umroh adalah ibadah untuk:
- Menghapus dosa
- Mendekatkan diri kepada Allah
- Membersihkan hati
- Memperbaiki hidup
Jika setelah umroh Allah lapangkan rezeki, itu bonus dari taqwa dan keberkahan, bukan tujuan utama.
Niatkan umroh karena Allah semata. Jika Allah tambahkan kekayaan dunia, itu karunia. Jika tidak, pahala akhirat jauh lebih besar nilainya.
Jika Anda ingin merencanakan umroh dengan niat yang benar, persiapan matang, dan bimbingan yang sesuai tuntunan syariat, silakan berkonsultasi dengan Haastour agar perjalanan ibadah Anda lebih terarah, aman, dan penuh keberkahan.
