Fenomena “Kesetrum” di Madinah

Daftar Isi

Sebagian jamaah mengaku merasakan sensasi seperti tersetrum ringan saat berada di area Masjid Nabawi di Madinah. Fenomena ini sering dikaitkan dengan hal mistis. Secara fakta teknis dan syariat, perlu diluruskan.


1. Penyebab Teknis (Bukan Mistis)

Fenomena tersebut umumnya disebabkan oleh:

a) Listrik Statis

  • Udara Madinah sangat kering.
  • Gesekan sandal/kain dengan lantai marmer.
  • Tubuh menyimpan muatan listrik kecil.
  • Saat menyentuh logam (pagar, pintu), terjadi pelepasan muatan → terasa seperti sengatan ringan.

Ini murni fenomena fisika.

b) Perbedaan Suhu & Kelembapan

  • Area ber-AC vs luar ruangan panas.
  • Tubuh cepat kering → meningkatkan potensi listrik statis.

2. Tidak Ada Dalil Keistimewaan “Energi Spiritual”

Tidak ada hadits shahih yang menyebut adanya “energi” khusus yang menyebabkan kesetrum di Masjid Nabawi.

Al-Masjid an-Nabawi memang tempat mulia, tetapi kemuliaannya karena:

  • Ibadah dilipatgandakan pahalanya.
  • Di dalamnya ada Raudhah.
  • Di situ dimakamkan Nabi ﷺ.

Bukan karena fenomena fisik tertentu.

Mengaitkan sensasi listrik statis dengan tanda kesalehan atau kekhusyukan adalah klaim tanpa dalil.


3. Sikap yang Benar

Jika mengalami:

  • Anggap sebagai fenomena alam biasa.
  • Tidak perlu dicari-cari.
  • Tidak perlu disebarkan sebagai “karomah”.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan membangun keyakinan baru tanpa dalil.


4. Cara Mengurangi Sensasi Tersebut

  • Gunakan sandal dengan sol karet.
  • Hindari menyeret kaki saat berjalan.
  • Sentuh benda non-logam sebelum memegang pagar logam.
  • Gunakan pelembap ringan jika kulit sangat kering.

Kesimpulan

Fenomena “kesetrum” di Madinah adalah akibat listrik statis karena udara kering dan lantai tertentu, bukan fenomena gaib atau tanda spiritual. Jangan mengaitkannya dengan hal yang tidak ada dalilnya.

Fokuskan hati pada dzikir dan ibadah yang jelas tuntunannya, karena kemuliaan Madinah ada pada ibadahnya, bukan pada sensasi fisiknya.