Kisah-kisah orang sholeh saat umroh bukan dongeng spiritual. Ia adalah pelajaran tentang keikhlasan, adab, dan bagaimana Allah memperlakukan hamba yang jujur dalam ibadahnya. Semua kisah ini harus dipahami sebagai karamah yang mungkin terjadi, bukan sesuatu yang dicari atau dijadikan tujuan. Dalam Islam, yang dikejar adalah ridha Allah, bukan pengalaman luar biasa.
Doa yang dikabulkan tanpa diminta ulang
Dikisahkan seorang ulama salaf melakukan umroh dengan bekal yang sangat sedikit. Ia tidak banyak berdoa tentang urusan dunia. Fokusnya hanya dzikir dan thawaf. Suatu hari ia berdoa singkat, lalu berhenti. Muridnya bertanya mengapa tidak memperbanyak doa. Ia menjawab, “Aku malu mengulang permintaan kepada Allah, karena aku yakin Dia mendengar.” Tidak lama setelah itu, datang seseorang yang sama sekali tidak ia kenal dan memberinya bekal cukup untuk sisa perjalanan. Ini bukan karena kehebatannya, tetapi karena keyakinannya kepada Allah.
Allah berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”
(QS. Ghafir: 60)
Dijaga Allah dari niat yang salah
Ada seorang sholeh yang sangat ingin umroh, tetapi niatnya bercampur ingin dipuji. Setiap kali menabung, selalu ada halangan. Ia sakit, hartanya habis, atau urusannya gagal. Hingga ia sadar dan memperbaiki niatnya. Ia berkata, “Aku ingin umroh hanya untuk Allah, bukan agar disebut orang.” Setelah itu, jalan umroh terbuka tanpa ia sangka. Ini bukan hukuman, tetapi penjagaan dari Allah agar ibadahnya tidak rusak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ditolong di saat paling sempit
Seorang sholeh kehilangan rombongan di Makkah. Ia tidak tahu arah, tidak membawa ponsel, dan tidak bisa berbahasa Arab. Ia berwudhu, shalat dua rakaat, lalu bertawakal. Tidak lama kemudian, seseorang mendatanginya dan mengantarkannya tepat ke tempat penginapan rombongannya. Setelah sampai, orang itu pergi tanpa sempat ditanya namanya. Ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak selalu masuk logika.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Hati yang berubah setelah umroh
Kisah paling menakjubkan bukan kejadian luar biasa, tetapi perubahan hati. Banyak orang sholeh justru diuji setelah umroh. Usahanya lebih berat, hidupnya lebih sederhana, tetapi hatinya jauh lebih tenang. Mereka tidak lagi mengejar dunia seperti sebelumnya. Inilah tanda umroh yang diterima, bukan cerita spektakuler.
Hasan Al-Bashri berkata:
“Tanda haji dan umroh yang diterima adalah seseorang meninggalkan maksiat yang dulu ia lakukan.”
Penutup yang perlu diluruskan
Kisah orang sholeh bukan untuk ditiru bentuk keajaibannya, tetapi ditiru sebabnya. Keikhlasan, adab, tawadhu, dan tawakal. Mencari karamah justru bisa menjerumuskan pada riya dan kesesatan. Yang benar adalah memperbaiki niat dan mengikuti sunnah.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu berasal dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)
Jika umroh dijalani dengan ilmu dan niat yang lurus, maka keajaiban terbesar adalah Allah menjaga imanmu sebelum, saat, dan setelah pulang.
Jika kamu ingin menyiapkan umroh dengan bimbingan yang lurus sesuai Qur’an dan Sunnah,
diskusikan rencanamu bersama Haastour, agar ibadahmu bukan hanya berangkat, tetapi benar-benar selamat.
