Umroh adalah ibadah mulia. Namun kemuliaannya sering dimanfaatkan oleh hawa nafsu manusia dan kepentingan dunia. Islam tidak mengajarkan sikap polos tanpa kewaspadaan. Justru syariat memerintahkan kehati-hatian agar ibadah tidak rusak, baik secara hukum maupun nilai.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Berikut sisi gelap umroh yang nyata terjadi dan wajib diwaspadai.
Umroh berubah menjadi ajang pamer
Sebagian orang berangkat bukan karena ingin taat, tetapi ingin terlihat saleh. Media sosial dipenuhi foto ibadah, caption religius, namun akhlak tidak berubah. Ini penyakit riya yang halus dan berbahaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Riya.”
(HR. Ahmad)
Jika umroh justru menumbuhkan kesombongan, itu tanda bahaya.
Penipuan travel dan janji palsu
Banyak jamaah tertipu harga murah yang tidak masuk akal. Hotel jauh, fasilitas dipotong, jadwal berubah sepihak, bahkan ada yang gagal berangkat. Ini kezaliman yang nyata.
Allah berfirman:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1)
Umroh tidak boleh ditempuh dengan akad yang samar dan penuh kebohongan.
Ibadah tanpa ilmu
Banyak jamaah rajin ritual, tetapi tidak tahu mana sunnah dan mana bid’ah. Akibatnya ibadah rusak tanpa disadari. Semangat tinggi tapi tidak dituntun ilmu.
Allah berfirman:
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ibadah tanpa ilmu bukan keutamaan, tapi risiko.
Menghalalkan cara demi bisa berangkat
Ada yang berutang riba, menelantarkan nafkah keluarga, atau mengambil hak orang lain demi berangkat umroh. Ini bahaya besar. Ibadah tidak sah dibangun di atas yang haram.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Berangkat ke Tanah Suci dengan harta haram tidak mendekatkan kepada Allah.
Hilangnya adab karena ambisi ibadah
Dorong-dorongan, marah, mencaci jamaah lain demi thawaf atau sholat di tempat tertentu. Ini sering terjadi. Ibadah yang benar tidak mungkin melahirkan akhlak yang rusak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika ibadah membuat orang lain tersakiti, ada yang keliru.
Umroh dijadikan wisata kosong makna
Sebagian jamaah lebih sibuk belanja, hotel, dan foto daripada dzikir dan tafakur. Tanah Suci diperlakukan seperti destinasi biasa. Hati hadir, tapi ruh ibadah hilang.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu berasal dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)
Pulangan tanpa perubahan
Ini sisi gelap paling berbahaya. Umroh selesai, tapi sholat tetap lalai, maksiat kembali normal, akhlak tidak berubah. Ini tanda umroh tidak menyentuh hati.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Tanda diterimanya kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
Kesimpulan
Sisi gelap umroh bukan pada ibadahnya, tetapi pada niat, cara, dan sikap manusia. Umroh bisa menjadi pembersih dosa atau justru hujjah yang memberatkan, tergantung bagaimana ia dijalani.
Karena itu, jangan hanya fokus berangkat, tapi fokus benar dalam berangkat.
Jika kamu ingin umroh dengan persiapan yang lurus, akad yang jelas, bimbingan sesuai sunnah, dan dijauhkan dari sisi gelap ibadah,
konsultasikan rencana umrohmu bersama Haastour.
Haastour membantu jamaah agar umrohnya selamat secara syariat, aman secara teknis, dan berdampak nyata pada iman dan akhlak.
