Sejarah Singkat Masjid Nabawi yang Wajib Kamu Ketahui

Daftar Isi

Masjid Nabawi adalah salah satu masjid paling mulia dalam Islam, menempati posisi kedua setelah Masjidil Haram. Bagi jamaah umroh dan ziarah, Masjid Nabawi bukan sekadar tempat singgah untuk salat, tetapi pusat sejarah, dakwah, dan pembentukan peradaban Islam. Memahami sejarah Masjid Nabawi akan membantu jamaah beribadah dengan lebih khusyuk, beradab, dan tidak terjatuh pada sikap berlebihan yang tidak berdalil.

Masjid Nabawi mengajarkan bahwa kemuliaan suatu tempat bukan karena bangunannya, tetapi karena ketaatan yang terjadi di dalamnya.

Awal Berdirinya Masjid Nabawi

Masjid Nabawi dibangun setelah Rasulullah ﷺ hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun pertama Hijriah. Ketika unta Rasulullah ﷺ berhenti di suatu tempat, itulah lokasi yang kemudian dipilih sebagai tempat masjid. Tanah tersebut milik dua anak yatim dari Bani Najjar dan dibeli secara sah, menunjukkan keadilan dan amanah sejak awal pembangunan Islam.

Pembangunan masjid dilakukan secara langsung oleh Rasulullah ﷺ bersama para sahabat. Beliau ikut mengangkat batu, bekerja tanpa membedakan diri sebagai pemimpin. Ini menjadi teladan besar tentang kepemimpinan yang rendah hati dan dekat dengan umat.

Fungsi Masjid Nabawi di Masa Rasulullah ﷺ

Masjid Nabawi sejak awal tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat. Masjid ini menjadi pusat kegiatan umat Islam. Di sinilah Al-Qur’an diajarkan, hukum Islam disampaikan, strategi dakwah dirumuskan, dan masalah umat diselesaikan. Masjid juga menjadi tempat menerima tamu dari berbagai kabilah dan negara.

Selain itu, Masjid Nabawi menjadi tempat tinggal Ahlus Suffah, para sahabat miskin yang mengabdikan hidupnya untuk menuntut ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa masjid adalah pusat pembinaan iman dan ilmu, bukan sekadar bangunan ibadah.

Bentuk Bangunan Masjid Nabawi yang Sederhana

Bangunan awal Masjid Nabawi sangat sederhana. Dindingnya dari batu bata tanah, tiangnya dari batang pohon kurma, dan atapnya dari pelepah kurma. Lantainya masih berupa tanah. Kesederhanaan ini menjadi pelajaran besar bahwa kemuliaan masjid tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada ketaatan dan keikhlasan ibadah di dalamnya.

Perluasan Masjid Nabawi dari Masa ke Masa

Seiring bertambahnya jumlah kaum Muslimin, Masjid Nabawi mengalami beberapa kali perluasan. Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan melakukan perluasan pertama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Perluasan terus berlanjut hingga masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Utsmaniyah, dan pemerintahan Saudi saat ini.

Meski bangunan Masjid Nabawi terus berubah dan semakin megah, nilai dan kedudukannya tetap sama. Yang dijaga adalah fungsinya sebagai pusat ibadah dan ilmu, bukan sekadar simbol kemegahan.

Raudhah, Taman Surga di Masjid Nabawi

Salah satu bagian paling dikenal dari Masjid Nabawi adalah Raudhah, yaitu area antara mimbar Rasulullah ﷺ dan rumah beliau. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tempat ini adalah taman dari taman-taman surga. Keutamaan Raudhah berdasarkan hadits sahih, sehingga dianjurkan untuk salat dan berdoa di sana.

Namun penting dipahami, Raudhah bukan tempat untuk berebut, mendorong, atau melanggar adab. Keutamaan tidak menghalalkan cara yang salah. Adab lebih utama daripada sekadar berada di lokasi tersebut.

Makam Rasulullah ﷺ dan Dua Sahabat Mulia
Di Masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ adalah sunnah yang dianjurkan. Salam dilakukan dengan suara pelan, penuh adab, dan tanpa berdoa menghadap makam.

Doa tetap ditujukan hanya kepada Allah. Ini adalah bentuk penjagaan tauhid yang diajarkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Keutamaan Salat di Masjid Nabawi

Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salat di Masjid Nabawi lebih utama daripada seribu salat di masjid lain kecuali Masjidil Haram. Keutamaan ini mendorong jamaah untuk memperbanyak salat wajib dan sunnah selama berada di Madinah, tanpa melalaikan adab dan ketenangan.

Adab Beribadah di Masjid Nabawi

Masjid Nabawi memiliki adab yang harus dijaga. Tidak mengeraskan suara, tidak berdebat, menjaga kebersihan, serta menghormati jamaah lain adalah bagian dari sunnah. Masjid Nabawi bukan tempat wisata biasa, tetapi tempat yang dimuliakan oleh Allah.

Masjid Nabawi sebagai Pusat Ilmu Hingga Hari Ini

Hingga saat ini, Masjid Nabawi tetap menjadi pusat ilmu. Kajian Al-Qur’an, hadits, dan fiqih terus berlangsung. Peran masjid sebagai pusat pembinaan umat tidak pernah berhenti sejak masa Rasulullah ﷺ hingga hari ini.

Pelajaran Besar dari Sejarah Masjid Nabawi

Sejarah Masjid Nabawi mengajarkan bahwa Islam dibangun dengan ilmu, akhlak, dan ketaatan. Masjid bukan sekadar bangunan megah, tetapi pusat perubahan manusia menuju kebaikan.

Ingin Ziarah Masjid Nabawi dengan Pemahaman yang Benar dan Tenang?
Agar kunjungan ke Masjid Nabawi bernilai ibadah dan tidak keluar dari tuntunan sunnah, diperlukan bimbingan yang amanah dan berilmu.

Haastour siap mendampingi perjalanan umroh dan ziarah Madinah dengan penjelasan berdalil, pelayanan profesional, dan pendampingan yang menenangkan.

Konsultasikan perjalanan Umroh bersama Haastour sekarang.