Keinginan berangkat umroh sering tertunda bukan karena niat yang lemah, tetapi karena perencanaan keuangan yang tidak jelas. Banyak orang ingin berangkat “nanti kalau ada rezeki”, padahal dalam Islam, ikhtiar harus didahulukan sebelum tawakal.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Perencanaan keuangan yang rapi adalah bagian dari takwa dan ikhtiar tersebut.
1. Tetapkan Target Waktu Keberangkatan
Langkah pertama adalah menentukan waktu yang jelas. Bukan sekadar “secepatnya”, tetapi spesifik, misalnya 18 bulan atau 24 bulan ke depan.
Target waktu akan menentukan:
- Jumlah tabungan per bulan
- Jenis paket umroh yang realistis
- Strategi pengelolaan penghasilan
Tanpa target waktu, menabung umroh akan terus kalah oleh kebutuhan lain.
2. Tentukan Estimasi Biaya Umroh
Hitung biaya umroh secara realistis. Untuk umroh reguler saat ini, estimasi aman berada di kisaran Rp28–35 juta per orang.
Gunakan angka konservatif agar tidak kaget jika harga naik. Jangan merencanakan dengan angka terlalu optimistis.
Perencanaan yang baik selalu memberi ruang aman.
3. Hitung Kemampuan Menabung Bulanan
Bagi total biaya dengan jumlah bulan target. Contoh:
- Target biaya: Rp30 juta
- Target waktu: 24 bulan
Maka kebutuhan tabungan sekitar Rp1,25 juta per bulan.
Angka ini harus realistis. Jika terasa berat, bukan targetnya yang salah, tapi strategi pengelolaannya yang perlu disesuaikan.
4. Pisahkan Rekening Khusus Umroh
Kesalahan umum adalah mencampur tabungan umroh dengan rekening harian. Akibatnya, dana mudah terpakai untuk kebutuhan lain.
Buat rekening khusus atau tabungan berlabel “Umroh”. Ini membantu disiplin dan menjaga niat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga niat juga berarti menjaga dananya.
5. Evaluasi dan Pangkas Pengeluaran Tidak Prioritas
Perencanaan umroh menuntut keberanian mengevaluasi gaya hidup. Tanyakan secara jujur:
- Pengeluaran mana yang bisa dikurangi
- Gaya hidup mana yang bisa ditunda
- Mana kebutuhan, mana keinginan
Mengurangi bukan berarti menyiksa diri, tetapi mengalihkan prioritas ke ibadah.
6. Tambahkan Sumber Dana Tambahan Jika Perlu
Jika tabungan bulanan terasa berat, cari sumber tambahan:
- Bonus kerja
- Usaha sampingan
- Freelance
- Penjualan aset tidak produktif
Banyak jamaah berangkat umroh bukan karena penghasilan besar, tetapi karena pengelolaan dan keberanian mengambil peluang halal.
7. Konsultasikan Sejak Awal dengan Travel yang Amanah
Langkah terakhir yang sering diabaikan adalah konsultasi lebih awal dengan travel umroh. Padahal ini penting untuk:
- Mengetahui kisaran biaya terbaru
- Menyesuaikan paket dengan kemampuan
- Menghindari target yang tidak realistis
Konsultasi sejak awal membantu perencanaan lebih presisi dan terarah.
Penutup
Umroh jarang terwujud karena kebetulan. Ia terwujud karena niat yang dijaga dan perencanaan yang disiplin. Tidak perlu menunggu kaya. Yang dibutuhkan adalah konsisten dan jujur pada diri sendiri.
Nabi ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sedikit demi sedikit yang terencana lebih cepat membawa ke Tanah Suci dibanding niat besar tanpa langkah nyata.
Jika kamu ingin dibantu menyusun rencana keuangan umroh yang realistis, sesuai kondisi penghasilanmu, dan tanpa tekanan,
konsultasikan rencana umrohmu bersama Haastour.
Haastour membantu jamaah menyusun langkah dari nol hingga berangkat, dengan perhitungan jujur, transparan, dan pendampingan ibadah sesuai sunnah.
