Umroh adalah ibadah tauqifiyah. Tata caranya hanya boleh berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ. Niat baik tidak cukup jika caranya salah. Setiap amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah ﷺ berpotensi tertolak, meskipun dilakukan di tempat paling mulia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Berikut bid’ah yang sering terjadi saat umroh dan perlu dihindari.
Mengkhususkan doa tertentu di setiap putaran thawaf
Sebagian jamaah meyakini setiap putaran thawaf harus membaca doa khusus yang sudah ditentukan. Ini tidak pernah dicontohkan Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ thawaf sambil berdzikir dan berdoa bebas sesuai kebutuhan hati, kecuali doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
Dalil yang sahih hanya:
“Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.”
(HR. Abu Dawud)
Selain itu, doa bebas. Menganggap ada doa wajib di setiap putaran adalah bid’ah.
Mengusap atau mencium semua sudut Ka’bah
Yang disyariatkan hanya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Mengusap dinding Ka’bah, tirai, atau sudut lain dengan keyakinan ada keutamaan khusus adalah bid’ah.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata saat mencium Hajar Aswad:
“Aku tahu engkau hanya batu. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.”
(HR. Bukhari)
Ini dalil kuat bahwa ibadah harus mengikuti contoh, bukan perasaan.
Mengusap dan mencium Maqam Ibrahim
Maqam Ibrahim hanya disyariatkan untuk sholat dua rakaat di belakangnya, bukan untuk disentuh atau dicium. Mengusapnya dengan niat tabarruk tidak memiliki dalil.
Allah berfirman:
“Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat sholat.”
(QS. Al-Baqarah: 125)
Ayat ini tidak memerintahkan mengusap atau mencium.
Berdoa berjamaah dengan satu komando saat thawaf dan sa’i
Satu orang memimpin doa keras, jamaah mengikutinya secara serempak. Ini tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ maupun para sahabat. Akibatnya sering mengganggu jamaah lain dan menghilangkan kekhusyukan.
Ibadah umroh adalah ibadah personal, bukan ritual koor massal.
Meyakini tempat tertentu pasti mustajab tanpa dalil
Contoh: meyakini tiang tertentu di Masjidil Haram atau Nabawi memiliki keutamaan khusus padahal tidak ada dalil sahih. Ini membuka pintu khurafat dan keyakinan tanpa ilmu.
Dalam ibadah, keistimewaan tempat harus berdasarkan nash, bukan cerita.
Mengulang-ulang umroh berkali-kali dari Tan’im tanpa kebutuhan
Sebagian jamaah mengejar “sebanyak mungkin umroh” dengan keluar masuk Tan’im berkali-kali, lalu mengabaikan sholat, dzikir, dan ilmu. Ini tidak dilakukan Rasulullah ﷺ. Umroh berulang tanpa kebutuhan syar’i bukan sunnah.
Para ulama menjelaskan bahwa memperbanyak thawaf dan sholat lebih utama.
Menganggap benda tertentu membawa keberkahan
Membawa pulang pasir, batu, atau benda dari Tanah Suci dengan keyakinan ada berkah khusus adalah bid’ah. Barakah datang dari ketaatan, bukan dari benda tanpa dalil.
Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan mengambil benda dari Tanah Suci untuk keberkahan.
Kesimpulan
Bid’ah dalam umroh sering muncul karena niat baik tanpa ilmu. Semakin mulia tempatnya, semakin wajib berhati-hati. Ikhlas saja tidak cukup. Ibadah harus benar caranya.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ikutilah sunnah dan jangan berbuat bid’ah, karena itu sudah cukup bagi kalian.”
Jika kamu ingin umroh dengan bimbingan yang lurus sesuai sunnah dan terhindar dari bid’ah tanpa sadar,
konsultasikan rencana umrohmu bersama Haastour.
Haastour membimbing jamaah agar ibadahnya sah, tenang, dan bernilai penuh di sisi Allah, bukan sekadar ramai secara ritual.
